Fish

Jumat, 02 Desember 2011

MODEL PEMBELAJARAN MENYIMAK DI SD

SRI  ELYANA

I.   PENDAHULUAN
Di dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan berbahasa yang menjadi sasaran pokok, yaitu menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Keterampilan menyimak dan berbicara dikategorikan dalam keterampilan berbahasa lisan, sedangkan keterampilan menulis dan membaca dikategorikan dalam keterampilan berbahasa tulis.
Menyimak dan berbicara merupakan keterampilan berbahasa lisan yang amat fungsional dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dengan keterampilan menyimak dan berbicara kita dapat memperoleh dan menyampaikan informasi. Kegiatan menyimak dan berbicara tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, siswa dituntut untuk mampu menyimak dan berbicara dengan baik.
Agar pembelajaran berbahasa lisan memperoleh hasil yang baik, secara strategi pembelajaran yang digunakan guru harus memenuhi kriteria berikut :
1.  Relevan dengan tujuan pembelajaran.
2. Menantang dan merangsang siswa untuk belajar.
3. Mengembangkan kreativitas siswa secara individual ataupun kelompok.
4. Memudahkan siswa memahami materi pelajaran.
5. Mengarahkan aktivitas belajar siswa kepada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
6. Mudah diterapkan dan tidak menuntut disediakannya peralatan yang rumit.
7. Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.
Metode permainan dan metode demontrasi untuk beberapa pembelajaran tertentu akan lebih efektif, misalnya di Kelas 1 SD Semester I, terdapat kompetensi dasar 1.1. Membedakan berbagai bunyi bahasa (ranah fonologi) ada 2 materi yang menonjol, anak membedakan berbagai bunyi benda dan berbagai bunyi hewan, 1. Untuk membedakan bunyi benda, guru bisa membawa beberapa alat demontrasi untuk membedakan bunyi antara benda satu dengan lainnya. Anak saling menutup mata dan menebak bunyi benda apa itu. 2. Untuk membedakan bunyi hewan, guru bisa menggunakan permainan dengan membagi kelompok melalui suara-suara hewan, tapi permainan ini sebaiknya di luar ruangan. Anak ditutup matanya. Guru membisiki mereka satu persatu dengan suara hewan tertentu, misalnya suara kucing, anjing, bebek, capung kerbau atau apapun. setelah dibisiki siswa disebar, mereka harus membunyikan suara hewan yang mereka dapat untuk saling mencari kelompoknya. Setelah selesai guru bertanya tentang suara hewan apa yang mereka perolah dan bagaimana pengalaman mereka. ada lagi pada pembelajaran ketrampilan menyimak di kelas 2 semester II, Kompetensi dasarnya 5.1. menyampaikan pesan pendek yang didengarnya kepada orang lain, bisa kita gunakan permainan seperti di kuis gamezone, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. mereka berdiri masing-masing dengan jarak tertentu, guru membisiki leader dengan sebuah pesan kemudian disampaikan secara estafet, anggota terakhir harus menyebutkan isi pesan tadi. kelompok tercepat yang menang. Mungkin itu sebagian sangat kecil dari stategi belajar menyimak.
II. PEMBAHASAN
2.1.  Strategi Pembelajaran Menyimak di  SD
1.     Guru terlebih dahulu mengondisikan dan memusatkan perhatian siswa
2.     Siswa harus sudah dalam keadaan konsentrasi penuh
3.     Materi yang akan diajarkan diusahakan materi yang menarik
4.     Guru dituntut terampil dalam menjelaskan materi, misalnya dengan suara yang  jelas,    dengan menggunakan bahasa tubuh (menggunakan mimik), serta diusahakan menggunakan media agar pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa.
Sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SD, dapatlah dikemukakan beberapa model pembelajaran berbahasa lisan sebagai berikut :
1)  Simak – Kerjakan
Model ucapan guru berisi kalimat perintah. Siswa memberikan reaksi atas perintah guru.   Reaksi siswa itu berbentuk perbuatan.

2)  Simak – Terka
Guru mempersiapkan deskripsi sesuatu benda tanpa menyebut nama bendanya. Deskripsi itu disampaikan secara lisan kepada siswa. Kemudian siswa diminta menerka nama benda itu.
3)  Simak –Berantai
Guru membisikkan suatu pesan kepada seorang siswa. Siswa tersebut membisikkan pesan itu kepada siswa kedua. Siswa kedua membisikkan pesan itu kepada siswa ketiga begitu seterusnya. Siswa trerakhir menyebutkan pesan itu dengan suara jelas di depan kelas. Guru memeriksa apakah pesan itu benar-benar sampai pada siswa terakhir atau tidak.
4)  Identifikasi Kalimat Topik
Guru membacakan sebuah paragraf lalu siswa menuliskan kalimat topiknya
5)  Pemberian Petunjuk
Teknik pemberian petunjuk ini dilakukan dengan cara guru memberikan sebuah petunjuk, seperti petunjuk mengerjakan sesuatu, petunjuk mengenai arah atau letak suatu tempat yang memerlukan sejumlah persyaratan. Petunjuk harus jelas, singkat, dan tepat. Pemberi petunjuk ini dapat dilakukan oleh guru kepada murid atau sesama murid.
6)  Bermain Peran
Bermain peran adalah simulasi tingkah laku dari orang yang diperankan. Tujuannya adalah (1) melatih siswa untuk menghadapi situasi yang sebenarnya, (2) melatih praktik berbahasa lisan secara intensif, dan (3) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya berkomunikasi. Dalam bermain peran, siswa bertindak, berlaku, dan berbahasa seperti orang yang diperankannya. Dari segi bahasa berarti siswa harus mengenal dan dapat menggunakan ragam-ragam bahasa yang sesuai.


7)  Dramatisasi
Dramatisasi atau bermain drama adalah kegiatan mementaskan lakon atau cerita. Biasanya cerita yang dilakonkan sudah dalam bentuk drama. Guru dan siswa terlebih dahulu harus mempersiapkan naskah atau skenario, perilaku, dan perlengkapan. Bermain drama lebih kompleks daripada bermain peran. Melalui dramatisasi, siswa dilatih untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya dalam bentuk bahasa lisan
 2.2.  Pengertian Strategi Pembelajaran Bahasa
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, strategi bermakna sebagai rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Strategi dapat diartikan pula sebagai upaya untuk mensiasati agar tujuan suatu kegiatan dapat tercapai.
Salah satu unsur dalam strategi pembelajaran adalah menguasai berbagai metode/teknik pembelajaran. Ciri suatu metode/teknik pembelajaran yang baik adalah :
a. Mengundang rasa ingin tahu murid.
b. Menantang murid untuk belajar.
c. Memngaktifkan mental, fisik, dan psikis murid.
d. Memudahkan guru.
e. Mengembangkan kreativitas murid.
f. Mengembangkan pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari.
Penyimak yang baik apabila individu mampu menggunakan waktu ekstra untuk mengaktifkan pikiran pada saat menyimak. Ketika para siswa menyimak, perhatiannya tertuju pada objek bahan simakan. Pada saat itulah akan didapatkan proses menyimak yang efektif, menyimak yang lemah, dan menyimak yang kuat, sebagaimana dikemukakan oleh Campbell, dkk (2006:16) pada tabel berikut ini.
2.3. Langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran keterampilan menyimak
Strategi Menyimak dan Berpikir Langsung (MBL) / Direct Listening Thinking   Activities (DLTA)
Ø  Pra Simak  atau Persiapan Menyimak :
Pada tahap ini guru memberitahukan judul cerita yang akan disimak, misalnya “Saat Sendirian di Rumah”. Berdasarkan judul teresbut guru menanyakan kepada siswa misalnya: “Bagaimana seandainya malam hari sendirian di rumah?” Untuk membangkitkan imajinasi siswa guru bisa menunjukkan gambar rumah yang gelap. Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan Apa kira-kira isi cerita yang akan dibacakan, apa yang kira-kira menarik dari cerita itu, bagaimana seandainya peristiwa itu terjadi pada kalian? Dan sebagainya.
Ø  Saat Simak
Guru Membaca Nyaring :
Guru membacakan cerita dengan suara nyaring secara menarik dan hidup. Pada bagian tertentu yang dianggap memiliki hubungan dengan prediksi dan tujuan pembelajaran, guru menghentikan pembacaan dan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Misalnya : “Apa kesimpulan yang kalian peroleh, apa yang terjadi kemudian, apa yang terjadi selanjutnya dan sebagainya” . Setelah tanya jawab dianggap cukup, guru melanjutkan membacakan lagi. Dan mengulangi langkah di poin kedua sampai cerita selesai.
Ø  Pascasimak
Refleksi : Guru mengakhiri pembacaan cerita selanjutnya guru meminta siswa untuk mengemukakan kembali isi cerita dan guru meminta pendapat siswa tentang unsur-unsur cerita, misalnya tentang watak tokoh, tentang alur, seting dan sebagainya secara lisan. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan menunjuk siswa maju ke depan untuk menceritakan kembali cerita yang telah dibacakan guru secara bergantian.
2.4. Tujuan Menyimak
Menurut Ice Sutari, dkk. (1997:22-26), tujuan menyimak dapat dibagi sebagai berikut.
1.      Mendapatkan fakta
Kegiatan menyimak dengan tujuan memperoleh fakta di antaranya melalui kegiatan membaca, baik melalui majalah, koran, maupun buku-buku. Selain itu, mendapatkan fakta melalui radio, televisi, pertemuan, menyimak ceramah-ceramah, dan sebagainya.



2.      Menganalisis fakta
Maksud dari menganalisis fakta yaitu proses menaksir kata-kata atau informasi sampai pada tingkat unsur-unsurnya, menaksir sebab akibat yang terkandung dalam fakta-fakta itu.
3.      Mengevaluasi fakta
Penyimak yang kritis akan mempertanyakan hal-hal mengenai nilai fakta-fakta itu, keakuratan fakta-fakta tersebut, dan kerelevanan fakta-fakta tersebut. Setelah itu, pada akhirnya penyimak akan memutuskan untuk menerima atau menolak materi simakannya itu. Selanjutnya penyimak diharapkan dapat memperoleh inspirasi yang dibutuhkannya.
4.      Mendapatkan inspirasi
Inspirasi sering dipakai alasan oleh seseorang untuk menyimak suatu pembicaraaan. Kita menyimak bukan untuk memperoleh fakta saja melainkan untuk memperoleh inspirasi. Kita mendengarkan ceramah atau diskusi ilmiah semata-mata untuk tujuan mendapatkan inspirasi atau ilham.
5.      Mendapatkan hiburan
Hiburan merupakan kebutuhan manusia yang cukup mendasar. Dalam kehidupan yang serba kompleks ini kita perlu melepaskan diri dari berbagai tekanan, ketegangan, dan kejenuhan. Kita sering menyimak radio, televisi, film layar lebar antara lain untuk memperoleh hiburan dan mendapatkan kesenangan batin. Karena tujuan menyimak di sini untuk menghibur, maka pembicara harus mampu menciptakan suasana gembira dan tenang. Tujuan ini akan mudah tercapai apabila pembicara mampu menciptakan humor yang segar dan orisinil yang mengakibatkan penyimak menunjukkan minat dan kegembiraannya. Karena itu pembicaraan semacam ini disebut bersifat rekreatif.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran menyimak ceritaanakmempunyai tujuan supaya siswa belajar agar memperoleh pengetahuan,mengevaluasi agar dapat menilai, mengapresiasi materi simakan,dan mendapatkan hiburan melalui cerita anak. Dengan tujuan tersebut siswa akan memahami unsur-unsur yang terkandung dalam cerita anak yaitu tokoh dan perwatakan, latar, serta tema dan amanat cerita anak.Jenis Menyimak
Kegaiatan menyimak tampak dalam kegiatan sehari-hari  dalam bentuk yang beraneka ragam. Makin maju kehidupan sosial makin bervariasi bentuk itu. Keanekaragaman itu disebabkan oleh adanya beberapa titik pandang yang kemudian dijadikan landasan pengklasifikasian menyimak.Sedangkan menurut Tarigan (1990:29),   jenis menyimak diklasifikasikan  menjadi dua, yaitu: menyimak ekstensif, dan  menyimak intensif. Adapun penjelasan setiap tingkatan jenis menyimak sebagai berikut.
1. Menyimak Ekstensif (menyimak sekilas)
Menyimak ekstensif adalah menyimak untuk memahami materi simakan hanya secara garis besar saja.  Penyimak memahami isi bahan simakan secara sepintas, umum  dalam garis-garis besar, atau butir-butir  penting tertentu.  Kegiatan menyimak ekstensif lebih bersifat umum dan tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari guru.
Penggunaan yang paling dasar adalah menangkap atau mengingat kembali bahan yang telah diketahui dalam suatu lingkungan baru dengan cara yang baru. Bahan yang dapat digunakan berupa bahan pelajaran yang baru saja diajarkan atau yang telah diajarkan.
Menyimak jenis ini memberi kesempatan dan kebebasan para siswa menyimak kosakata dan struktur-struktur yang masih asing. Tujuan menyimak ekstensif adalah menyajikan kembali bahan pelajaran dengan cara yang baru. Menyimak ekstensif meliputi menyimak sosial, menyimak sekunder, menyimak estetik, dan menyimak pasif.
2. Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah menyimak dengan penuh perhatian, ketekunan dan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam dan menguasai secara luas bahan simakan. Penyimak memahami secara  terperinci, teliti, dan mendalam bahan yang disimak. Kegiatan menyimak intensif lebih diarahkan dan dikontrol oleh guru. Bahan yang dapat digunakan berupa berupa leksikal maupun gramatikal. Untuk itu, perlu dipilih bahan yang mengandung ciri ketatabahasaan tertentu dan sesuai dengan tujuan. Selain itu, guru juga perlu memberikan latihan-latihan yang sesuai dengan tujuan.  Menyimak intensif mencakup menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif, menyimak eksploratori, menyimak introgatif, dan menyimak selektif.  Salah satu cara yang dapat digunakan untuk melatih menyimak intensif adalah menyuruh siswa menyimak tanpa teks tertulis, seperti mendengarkan rekaman.Menyimak cerita anak  termasuk jenis menyimak intensif. Para siswa menyimak dengan mencatat kata atau frase penting bahan yang disimak. Hal itu dimaksudkan agar siswa dapat memahami apa yang disimaknya dengan baik. Pemahaman tersebut sangat berguna dalam kegiatan berdiskusi, mengenai apa yang disimaknya. Kegiatan menyimak tersebut diarahkan dan dikontrol oleh guru.
2.5. Tahap-Tahap Menyimak
Sabarti  Akhadiah (1993:149) menyebutkan tahap-tahap menyimak sebagai berikut.
1. Tahap Mendengarkan
Pada tahap ini kita baru mendengar  segala sesuatu yang dikemukakan  oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya. Jadi kita masih berada dalam tahap hearing.
2. Mengidentifikasi
Penyimak mengidentifikasi segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraanya.
3. Tahap Menginterpretasi
Penyimak yang baik, yang cermat dan teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara. Dia ingin menafsirkan atau menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat dan tersirat dalam ujaran itu. Dengan demikian maka sang penyimak telah tiba pada tahap interpreting.
4. Tahap Memahami
Setelah kita mendengar maka ada keinginan bagi  kita untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan yang disampaikan oleh pembicara, maka sampailah kita dalam tahap understanding.
5. Tahap Mengevaluasi atau menilai
Setelah memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasikan isi pembicara, sang penyimak pun mulailah menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan sang pembicara,  keunggulan dan kelemahan,  kebaikan dan kekurangan sang pembicara, maka dengan demikian sudah sampai pada tahap evaluating.
6. Tahap Menanggapi atau mereaksi
Merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak. Sang penyimak menyambut, mencamkan, menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya. Sang penyimak pun sampailah pada tahap menanggapi (responding).Jadi tahap-tahap menyimak cerita anak menurut Sabarti  dianggap sesuai dengan perkembangan psikologis anak usia Sekolah Dasar yaitu tahap mendengarkan cerita anak, mengidentifikasi kata-kata kunci cerita anak, menginterpretasi cerita anak, memahami isi cerita anak mengevaluasi atau menilai cerita anak, dan menanggapinya.
2.6. Pemilihan Teknik Pembelajaran Keterampilan Menyimak  
Pemilihan teknik pembelajaran  menyimak haruslah sesuai dengan kondisi dan keadaan siswa.  Pemilihan teknik  harus dilakukan secara cermat dan teliti. Dalam menerapkan teknik-teknik tersebut guru perlu memperhatikan syarat-syarat teknik pembelajaran keterampilan menyimak.
Tarigan D & H.G. Tarigan (1987:43) menyebutkan bahwa syarat  teknik menyimak yang baik adalah sebagai berikut.
1.  Memikat, menantang atau merangsang siswa untuk belajar.
2.  Memberi kesempatan luas dan mengaktifkan siswa secara mental dan fisik dalam
     belajar.
3. Tidak menyulitkan guru dalam penyusunan,  pelaksanaan dan penilaian dalam
     program pembelajaran.
4. Dapat mengarahkan  kegiatan belajar ke arah tujuan pembelajaran.
5. Tidak menuntut peralatan yang rumit, mahal dan sukar pengoprasianya.
6. Mengembangkan kreativitas siswa.
7. Mengembangkan penampilan siswa  secara individual ataupun secara          
    kelompok.
8. Meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar.
9. Mengembangkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuchdi (1999:4-5) menyatakan keberhasilan menyimak bergantung  pada dua kondisi.  Pertama, guru harus memberikan teladan sebagai penyimak yang kritis, pembicara yang efektif dan menggunakan strategi serta teknik yang efektif pula. Kedua, setiap murid yang berpartisipasi dalam diskusi harus memiliki informasi tertentu yang akan disampaikan kepada teman-temannya.Penerapan teknik dalam pembelajaran harus memperhatikan materi atau bahan, kondisi siswa, situasi kelas, dan sebagainya. Seorang guru harus pandai-pandai menerapkan teknikpembelajaran di dalam kelas. Guru perlu mengetahui, pada saat yang bagaimana dan kapan teknik tersebut perlu diterapkan.
III.  KESIMPULAN




















Daftar Pustaka

Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuchdi. 2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di
              Kelas tinggi.Malang: Universitas Negeri Malang.

Cox, Carole.1998. Teaching language arts (a student-and response-centered classroom). New York: A Viacom Company.

Hairuddin,dkk.2008. Pembelajaran bahasa indonesia. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional.

Haryadi.1996.  Keterampilan Berbahasa Indonesia. Departemen Pendidikan dan        
              Kebudayaan DIKTI. Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Hennings, G. Dorothy. 1986. Communication in Action: Teaching  the   Language  art.  New
Jersey: Houghton Mifflin Company Boston.

Ice Sutari, dkk.1998. Menyimak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bagian
Proyek Penataran Guru SLTP setara DIII.

Lie, Anita. May 1993. Paired Storytelling: An integrated Approach For ef Student. Journal  
            of Reading:International  Reading  Association. (Ed. 372601).

Muhammad Nur Mustakhim.2005.Peranan  cerita dalam pembentukan perkembangan  anak
tk. Departemen Pendidikan Nasional Dirjen Dikti.

Noor Fatirul. 2008. Cooperative learning. Diambil pada tanggal 17 Juli 2009 dari

Sabarti Akhadiah. 1993. Bahasa indonesia I. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Sriyono. 2009. Menyimak. Diambil tanggal 23 Juli 2009 dari  http://prabareta.blogspot.com. 

Tadkiroatun Musfiroh. 2003. Bercerita untuk anak usia dini. Jakarta: Departemen Pendidikan 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar