Fish

Senin, 12 Maret 2012

Pemilihan Bahasa dalam Masyarakat (Elyana Lie Atmawijaya





I.    Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Salah satu asumsi pokok kelahiran sosiolinguistik sebagai cabang ilmu bahwa masyarakat bahasa bersifat heterogen, baik antara satu masyarakat bahasa dengan masyarakat lainnya, atau pula di antara anggota dalam masyarakat bahasa yang sama. Heterogenitas  itu ditandai oleh berbagai perbedaan sosial seperti status sosial, peran sosial, jenis kelamin, umur, latar belakang etnik, lingkungan, pendidikan, dan agama. Masyarakat bahasa adalah semua anggota masyarakat tidak hanya menggunakan satu aturan yang sama secara bersama-sama dalam berbicara, tetapi juga menggunakan setidak-tidaknya satu variasi yang sama.
Pandangan di atas mulai bergeser ketika orang sudah  dapat mengerti satu sama lain walaupun mereka menggunakan aturan dan variasi yang berbeda. Pergeseran ini terjadi akibat desakan zaman yang umum dikenal sebagai globalisasi yang benar-benar tidak terbendung lagi. Penduduk dengan segala atribut yang mengikutinya, tidak terkecuali bahasa, berpindah secara geografis atau maya dalam ruang yang nyaris tidak terbatas. Teknologi transportasi yang canggih telah memudahkan berpindah tempat, dan teknologi maya yang super canggih telah pula memudahkan orang untuk berkomunikasi tanpa harus bergerak dari tempat tinggalnya. Wawasan pengetahuan bahasa lokal, regional, maupun internasional semakin bertambah dalam pikiran orang-orang yang menggunakan jasa teknologi di atas, bahkan orang-orang  semacam ini semakin lama semakin banyak jumlahnya.
Walaupun realitas akan terus bergerak, namun definisi masyarakat bahasa pun sewajarnya memenuhi aturan-aturan dan itu bisa saja sama atau berbeda. Ketika semua orang berbicara dalam satu bahasa dengan menggunakan fonologi dan tata bahasa yang sama atau berbeda secara secara bersama-sama, ketika itu mereka dapat dikategorikan sebagai satu kelompok masyarakat bahasa. Tentu bahasa yang digunakan tidak menjadi kendala terhadap pemahaman satu sama lain.
Dalam sosiolinguistik Dell Hymes tidak membedakan secara eksplisit antaraa bahasa sebagai sistem dan tutur sebagai keterampilan. Keduanya disebut kemampuan komunikatif (communicative competence). Kemampuan komunikatif meliputi kemampuan bahasa yang dimiliki penutur beserta keterampilan mengungkapkan bahasa tersebut sesuai dengan fungsi dan situasi serta norma pemakaian dalam konteks sosialnya. Kemampuan komunikatif yang dimiliki individu maupun kelompok yang disebut verbal repertoire. Jadi verbal repertoire sdapat dikelompokkan menjadi dua yaitu verbal repertoire yang dimiliki individu dan verbal repertoire yang dimiliki masyarakat. Jika suatu masyarakat memiliki verbal repertoire  yang relatif sama dan memiliki penilaian yang sama terhadap pemakaian bahasa yang digunakan dalam masyarakat di sebut masyarakat bahasa. Berdasarkan verbal repertoire yang dimiliki oleh masyarakat, masyarakat bahasa dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) masyarakat monolingual, (2) masyarakat bilingual, (3) masyarakat multilingual. Makalah ini membahas pemilihan  bahasa dalam masyarakat multilingual.
Interaksi sosial dalam masyarakat melahirkan multibahasa, dengan tersedianya beberapa bahasa atau ragam bahasa menuntut tiap-tiap penutur mampu memilih secara tepat bahasa atau ragam bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi.  Pemilihan bahasa ini tidak bersifat acak melainkan mempertimbangkan berbagai faktor. Tulisan ini bertujuan memaparkan fenomena pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual berdasarkan paradigma sosiolinguistik.
Pandangan de Saussure (1916) yang menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan, yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain, seperti perkawinan, pewarisan harta peninggalan, dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. Namun, kesadaran tentang hubungan yang erat antara bahasa dan masyarakat baru muncul pada pertengahan abad ini (periksa Hudson 1996: 2). Para ahli bahasa mulai sadar bahwa pengkajian bahasa tanpa mengaitkannya dengan masyarakat akan mengesampingkan beberapa aspek penting dan menarik, bahkan mungkin menyempitkan pandangan terhadap disiplin bahasa itu sendiri. Argumentasi ini telah dikembangkan oleh Labov (1972) dan Halliday (1973). Alasannya adalah bahwa ujaran mempunyai fungsi sosial, baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai suatu cara mengidentifikasikan kelompok sosial. Apabila kita mempelajari bahasa tanpa mengacu ke masyarakat yang menggunakannya sama dengan menyingkirkan kemungkinan ditemukannya penjelasan sosial bagi struktur yang digunakan.   Satu aspek yang juga  mulai disadari adalah hakikat pemakaian bahasa sebagai suatu gejala yang senantiasa berubah. Suatu pemakaian bahasa itu bukanlah cara pertuturan yang digunakan oleh semua orang, bagi semua situasi dalam bentuk yang sama, sebaliknya pemakaian bahasa itu berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor, baik faktor sosial, budaya, psikologis, maupun pragmatis. Hubungan bahasa dan faktor-faktor tersebut dikaji secara mendalam dalam disiplin sosiolinguistik.
Dari perspektif sosiolinguistik fenomena pemilihan bahasa (language choice) dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji. Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pilihan pemakaian bahasa. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism (multilingualisme masyarakat) yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Tidaklah akan ada bab tentang diglosia, apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. Apabila dicermati setiap bab dalam karya Fasold (1984), akan jelas bahwa setiap kajian dalam karya itu dipusatkan pada kemungkinan adanya pilihan yang bisa dibuat di dalam masyarakat mengenai penggunaan variasi bahasa. Statistik sekalipun menurut Fasold (1984) tidak akan diperlukan dalam kajian sosiolinguistik, apabila tidak ada variasi dalam penggunaan bahasa dan pilihan di antara variasi-variasi tersebut.
Faktor-faktor apa yang menjadi penentu pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa? Tulisan ini mencoba  mengungkap permasalahan tersebut. Berikut secara berturut-turut dipaparkan: (1) perspektif sosiolinguistis tentang pemilihan bahasa ; (2) kategori pemilihan bahasa; (3) faktor penentu pemilihan bahasa; dan (4) pendekatan pemilihan bahasa.
Kata kunci: pemilihan bahasa, masyarakat multibahasa, sosiolinguistik, pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi sosial, dan pendekatan antropologi.
2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka didapatkan masalah
Faktor-faktor apa yang menjadi penentu pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa ?
3.      Tujuan
1.      Memaparkan fenomena pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual berdasarkan paradigma sosiolinguistik.
2.      Diharapkan tulisan ini bermafaat bagi para peminat disiplin tersebut untuk melakukan kajian pada latar situasi kebahasaan di Indonesia.




II.     Pembahasan
2.1.  Perspektif Sosiolinguistis tentang Pemilihan Bahasa
Sesuai dengan namanya, sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat (Wardhaugh, 1984: 4; Holmes, 1993; 1; Hudson, 1996: 2), yang  mengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah, yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam karya Haver C. Currie (via Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Ia mulai berkembang pada akhir tahun 60-an, dan diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolingustics of the International Sociology Association (1967). Jurnal baru terbit pada awal tahun 70-an, Language in Society (1972) dan International Journal of the Sociology of Language (1974), dan sejumlah buku teks pengantar (Pride, 1971,; Fishman, 1972, Dittmar, 1976). Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan disiplin yang relatif baru.
Bahasa dalam kajian sosiolinguistik tidak didekati sebagai bahasa sebagaimana dalam kajian linguistik teoretis, melainkan didekati sebagai sarana interaksi di dalam masyarakat. Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California, Los Angeles, tahun 1964, telah merumuskan adanya tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. Ketujuh dimensi yang merupakan bidang kajian sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial penutur, (2) identitas peserta tutur, (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur, (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial, (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentuk-bentuk ujaran, (6) tingkatan variasi linguistik, dan (7) penerapan praktis penelitian sosiolinguistik (lihat Dittmar 1976: 128). Sejalan dengan rumusan itu, Kartomihardjo (1988: 4) mengemukakan gagasan tentang objek kajian sosiolinguistik, sebagai berikut :
Sosiolinguistik mempelajari hubungan antara pembicara dan pendengar, berbagai macam bahasa dan  variasinya, penggunaannya sesuai dengan berbagai faktor penentu, baik faktor kebahasaan maupun lainnya, serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan dipertahankan di dalam suatu masyarakat.
Gagasan itu mengandung pengertian bahwa sosiolinguistik mencakupi bidang kajian yang luas, bukan hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasi bahasa melainkan juga penggunaan bahasa di masyarakat. Penggunaan bahasa tersebut bertemali dengan berbagai faktor, baik faktor kebahasaan itu sendiri maupun faktor nonkebahasaan, seperti faktor sosialbudaya, termasuk tata hubungan antara pembicara dan pendengar. Implikasinya adalah bahwa tiap-tiap kelompok masyarakat mempunyai kekhususan dalam hal nilai-nilai sosialbudaya dan variasi penggunaan bahasa dalam interaksi sosial.
Ada asumsi penting di dalam sosiolinguistik yang menya­takan bahwa bahasa itu tidak pernah monolitik keberadaannya (Bell, 1975). Asumsi ini mengandung pengertian bahwa sosio-linguistik memandang masyarakat yang dikajinya sebagai masyarakat yang beragam setidak-tidaknya dalam hal penggunaan bahasa atau dalam pilihan bahasa mereka. Adanya fenomena pemakaian variasi bahasa dalam masyarakat tutur dikontrol oleh faktor-faktor sosial, budaya, dan situasional (Kartomihardjo, 1981, Fasold, 1984, Hudson, 1996, Wijana (1997: 5). Dalam kajian pemilihan bahasa, tugas sosiolinguis  adalah berusaha menerangjelaskan hubungan antara gejala pemilihan bahasa dengan faktor-faktor sosial, budaya, dan situasional dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa,  baik secara korelasional maupun implikasional.
Pada umumnya, sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa. Dalam kenyataannya, fenomena pemilihan bahasa juga akan bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan peilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu, tentu ada bahasa lain atau ragam lain yang ikut digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding.
Sosiolinguistik melihat fenomena pemilihan bahasa sebagai fakta sosial dan menempatkannya dalam sistem lambang (kode), sistem tingkah laku budaya, serta sistem pragmatik. Dengan demikian, kajian sosiolinguistik menyikapi fenomena pemilihan bahasa sebagai wacana dalam peristiwa komunikasi dan sekaligus menunjukkan identitas sosial dan budaya peserta tutur.
Dalam kaitannya dengan situasi kebahasaan di Indonesia, kajian pemilihan bahasa dalam masyarakat di Indonesia bertemali dengan permasalahan pemakaian bahasa dalam masyarakat dwibahasa atau multibahasa karena situasi kebahasaan di dalam  masyarakat Indonesia sekurang-kurangnya ditandai oleh pemakaian dua bahasa, yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu (pada sebagaian besar masyarakat Indonesia), bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan bahasa asing. Studi pemilihan bahasa dalam masyarakat seperti itu lebih mengutamakan aspek tutur (speech) daripada aspek bahasa (language). Sebagai aspek tutur, pemakaian bahasa relatif berubah-ubah sesuai dengan perubahan unsur-unsur dalam konteks sosial budaya. Hymes (1972; 1973; 1980) merumuskan unsur-unsur itu dalam akronim SPEAKING, yang merupakan salah satu topik di dalam etnografi komunikasi (the etnography of communication), yang oleh Fishman (1976: 15) dan Labov (1972: 283) disebut sebagai variabel sosiolinguistik.
Hymes (1980) mengemukakan tujuh belas komponen peristiwa tutur (components of speech event) yang bersifat universal. Ketujuh belas komponen itu oleh Hymes diklasifikasikan lagi menjadi delapan komponen yang diakronimkan dengan SPEAKING: (1) setting and scene (latar dan suasana tutur), (2) participants (peserta tutur), (3) ends (tujuan tutur), (4) act sequence (topik/urutan tutur), (5) keys (nada tutur), (6) instrumentalities (sarana tutur), (7) norms (norma-norma tutur), dan (8) genre (jenis tutur).  Pandangan Hymes di atas dijadikan kerangka konsep pelaksanaan penelitian ini. Kedelapan komponen peristiwa tutur tersebut merupakan faktor luar bahasa yang menentukan pemilihan bahasa.

2.2.     Kategori Pemilihan Bahasa
 Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan, yaitu memilih “sebuah bahasa secara keseluruhan” (whole language) dalam suatu komunikasi. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. Misalnya, seseorang yang mengusai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. Kenyataannya, dalam hal memilih, terdapat tiga jenis pilihan. Pertama, dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra-language-variation). Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada kepala desa dengan menggunakan bahasa Jawa kromo, misalnya, maka ia telah melakukan pilihan bahasa yang pertama itu. Kedua, dengan alih kode (code-swicthing), artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan, dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain. Ketiga, dengan melakukan campur kode (code-mixing), artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-serpihan dari bahasa lain.
Peristiwa peralihan bahasa atau alih kode (code-switching) dapat terjadi karena beberapa faktor. Rayfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa bahasa Yahudi-Inggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama, yakni respon penutur terhadap situasi tutur (seperti kehadiran seseorang dari luar dan perubahan topik pembicaraan) dan  sebagai alat retorik (seperti penekanan pada kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu). Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) ada dua macam alih kode, yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis  (metaphorical switching). Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi, sedangkan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafora (yang melambangkan identitas penutur).
Campur kode (code-mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau dua ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti juga diduga akan terdapat gejala tersebut. Gejala seperti itu cenderung mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of languages), yaitu pemakaian satu kata, ungkapan atau frase pendek, yang di Filipina (menurut Sibayan dan Segovia, 1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau Taglish, untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Di Indonesia, Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

2.3.          faktor-faktor penentu pemilihan bahasa
Ervin-Trip (dalam Grosjean 1982: 125) mengidentifikasikan empat faktor utama yang menyebabkan pemilihan bahasa, yaitu
(1)    latar (waktu dan tempat) dan situasi, yaitu dapat berupa hal-hal, seperti: makan pagi di  lingkungan keluarga, pesta kuliah, dan tawar menawar di pasar.
(2)   partisipan dalam interaksi, yaitu mencakup hal-hal, seperti: usia, jenis kelamin,  
pekerjaan, status sosial ekonomi, asal, latar belakang kesukuan, dan peranannya dalam hubungan dengan partisipan lain. (contoh: direktur-karyawan, suami-istri, penjual pembeli, guru-siswa).
(3)   topik percakapan, yaitu dapat berupa: topik-topik tentang pekerjaan, olah raga, harga
sembako, peristiwa aktual, dan sebagainya.
(4)   fungsi interaksi yaitu berupa hal-hal seperti: penawaran informasi, permohonan, dan     
mengucapkan terima kasih.
Senada dengan pendapat Ervin-Trip di atas, Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktor yang berpengaruh dalam pemilihan bahasa. Menurut Grosjean terdapat empat faktor, yaitu (1) partisipan, (2) situasi, (3) isi wacana, (4) fungsi interaksi.
Aspek yang perlu diperhatikan dari faktor partisipan adalah (a) keahlian berbahasa, (b) pilihan bahasa yang dianggap lebih baik, (3) status sosial ekonomi, (d) usia, (e) jenis kelamim, (f) pendidikan, (g) pekerjaan, (h) latar belakang etnis, (i) relasi kekeluargaan, (j) keintiman, (k) sikap kepada bahasa-bahasa, dan (l) kekuatan luar yang menekan.
Faktor situasi mencakup: (a) lokasi atau latar, (b) kehadiran pembicara monolingual, (c) tingkat formalitas, dan (d) tingkat keintiman. Faktor isi wacana berkaitan dengan (a) topik percakapan dan (b) tipe kosakata. Faktor fungsi interaksi mencakup: (a) strategi menaikan status, (b) jarak sosial, (c) melarang masuk atau mengeluarkan seseorang dari pembicaraan, dan (d) memerintah atau meminta.
Dari jabaran di atas, yang perlu diperhatikan adalah adanya atau jarang terdapat faktor tunggal yang mempengaruhi pemilihan bahasa seorang dwibahasawan/multibahasawan. Yang menjadi pertanyaan adalah “apakaah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. Umumnya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lainnya. Di Obewart, Gal (dalam Grosjean, 1982: 143) menemukan bukti bahwa karakteristik pembicara dan pendengar menduduki faktor penentu terpenting. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan.
Berbeda dengan Gal, Rubin menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi interaksi. Rubin meneliti pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay. Dari penelitian itu dapat disimpulkan bahwa lokasi interaksi, yaitu (1) desa, (2) sekolah, dan (3) tempat umum, sangat menentukan pilihan bahasa oleh pembicara bilingual. Di desa, pembicara akan memilih bahasa Guarani, di sekolah akan memilih bahasa Spanyol, dan di tempat umum memimilih bahasa Spanyol (Grosjean 1982: 43).
2.4.      Pendekatan Pemilihan Bahasa
Penelitian terhadap pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan, yaitu pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi sosial, dan pendekatan antropologi. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut.
2.4.1. Pendekatan Sosiologi
Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah (domain). Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). Ranah menurut Fishman (1964) dipandang sebagai konstelasi faktor-faktor seperti lokasi, topik, dan partisipan. Ranah didefinisikan sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi, hubungan peran antar komunikator, tempat komunikasi di dalam keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (ed), 1972). Di bagian lain, Fishman (dalam Amon, 1987) mengemukakan bahwa ranah adalah konsepsi teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama, misalnya keluarga, ketetanggaan, agama, dan pekerjaan.  Sebagai contoh, apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik, maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga.
Analisis domain terkait dengan diglosia. Di dalam sebuah masyarakat yang terdapat diglosia, bahasa rendah (low) merupakan bahawa yang cenderung dipilih dalam domain keluarga, sedangkan bahasa tinggi dipergunakan dalam domain yang lebih formal, seperti pendidikan dan pemerintahan.
Penelitian yang mempergunakan analisis domain pernah dilakukan antara lain oleh Greenfield (1972) tentang pemilihan bahasa Spanyol dengan tiga komponen kongruen, yaitu: orang, tempat, dan topik. Untuk menguji apakah sebuah paduan dari ketiga faktor itu benar-benar berhubungan dengan pikiran anggota masyarakatnya, Greenfield menyebarkan kuesioner.
Dengan kuesioner itu subjek diberi dua faktor yang kongruen dan diminta untuk menyeleksi yang ketiga dan juga bahasa yang akan mereka gunakan dalam panduan situasi. Subjek diberi tahu untuk memikirkan sebuah percakapan dengan orang tua tentang masalah keluarga dan meminta memilih tempat di antara beberapa pilihan: rumah, pantai, gereja, sekolah, dan tempat kerja. Dari kuesioner yang kembali mayoritas responden memilih lokasi rumah seperti yang diharapkan. Dengan satu perkecualian (pilihan pantai sebagai komponen yang tepat untuk domain persahabatan), komponen ketiga yang diharpkan dipipih oleh paling tidak 81 persen subjek.
Setelah memilih komponen ketiga yang tepat, subjek diminta untuk menunjukkan yang mana yang berhubungan dengan domain pada skala lima-butir. Skala ini mirip dengan skla perbedaan-semantik yang sering digunakan dalam penelitian sikap bahasa. Angka 1 pada skala itu menunjukkan semua bahasa Spanyol, 2 berarti lebih banyak bahasa Spanyol daripada bahasa Inggris, 3 berarti jumlah yang sama antara bahasa Spanyol dan bahasa Inggris, 4 leboh banyak bahasa Inggris daripada bahasa Spanyol, 5 berarti semua bahasa Inggris. Dari hasil rata-rata diketahui bahwa bahasa Spanyol mendapatkan rata-rat rendah dan lebih banyak subjek yang memilih bahasa Inggris. Analisis varian dengan pilihan bahasa sebagai variabel bebas menunjukkan bahwa perbedaan menurut kategori domain signifikan pada p < 0,01. Interpretasi yang bisa ditarik adalah bahwa bahasa Spanyol lebih cenderung dipilih dalam situasi akrab, dan bahasa Inggris lebih cenderung dipilih dalam situasi yang terdapat perbedaan status. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis inilah Greenfield menemukan bukti bahwa masyarakat Puerto Rico di New York City cenderung diglosik, dengan bahasa Spanyol sebagai bahasa rendah dan bahasa Inggris sebagai bahasa tinggi.
2.4.2. Pendekatan Psikologi Sosial
Berbeda dengan pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu, seperti motivasi individu, daripada berorientasi pada masyarakat. Karya-karya penting dalam penelitian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Simon Herman (1968),  Giles dan kawan-kawannya (Giles 1973; Giles, Bourhish dan Taylor 1977).
Herman (1968 dalam Fasold 1984: 187) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam pemilihan bahasa. Menurut Herman seorang penutur dwibahasa berada pada lebih dari satu situasi psikologis secara simultan. Herman membicarakan tiga jenis situasi. Situasi pertama berhubungan dengan kebutuhan personal penutur  (personal needs), kedua situasi lain berhubungan dengan pengelompokkan sosial (social grouping), yaitu situasi latar belakang (background situation) dan situasi sesaat (immediate situation).
Sangatlah bermakna untuk melihat ketika pembicara yang harus memilih antara dua bahasa atau lebih pada dua situasi tumpang tindih. Kedua situasi psikologis itu menurut Herman (dalam Fishman 1977: 493) sebagai berikut, Pertama, satu situasi yang berkaitan dengan kebutuhan yang ada pada pribadi, yaitu keinginan untuk berbicara dalam bahasa tertentu (bahasa yang paling dikuasainya); situasi lain berkiatan dengan norma-norma kelompoknya yang memungkinkan dia memaksa diri menggunakan bahasa lain (bahasa itu mungkin belum dikuasainya secara baik).Di sini terjadi konflik antara kebutuhan pribadi dan tuntutan kelompok. Kedua, dalam penentuan bahasa yang akan digunakan muncul kekuatan yang tidak hanya dari situasi yang bersemuka (face to face), akan tetapi juga dari situasi yang lebih besar. Dengan pendekatan yang sama, Howard Giles (1977, 321-324) mengembangkan teori akomodasi (acomodation theory).  Secara normal, akomodasi mengambil bentuk konvergensi, yang ditunjukkan dengan memilih sebuah bahasa atau variasi bahasa yang tampak sesuai dengan kebutuhan orang yang diajak berbicara. Dalam kondisi tertentu, seorang penutur dapat gagal melakukan konvergensi bahka mungkin dengan sengaja  melakukan divergensi. Dengan kata lain, seorang penutur mungkin tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam memilih bahasa atau variasi bahasa untuk menyesuaikan dengan orang lain, dan ada penutur yang dengan sengaja memilih bahasa atau variasi bahasa yang tidak sesuai dengan orang yang diajak berbicara.
Hal di atas terjadi ketika penutur ingin menekankan loyalitasnya pada kelompokknya sendiri dan membedakan dirinya dari kelompok mitra bicara. Satu contoh yang jelas adalah ketika seorang Amerika kulit hitam yang berbicara  dengan orang berkulit putih dengan menggunakan bahasa Inggris dialek hitam untuk menunjukkan jati dirinya.
2.4.3.      Pendekatan Antroplogi
Dari pandangan antropologi, pilihan bahasa bertemali dengan perilaku yang mengungkap nilai-nilai sosial budaya. Seperti juga psikologi sosial, antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Perbedaannya adalah bahwa jika psikologi sosial memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur, pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan pemilihan bahasanya untuk mengungkapkan nilai kebudayaannya (Fasold 1984: 192).
Dari segi metodologi terdapat perbedaan antara pendekatan antropologi, pendekatan sosiologi, dan psikologi sosial. Sosiologi dan psikologi sosial lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner atau observasi atas orang-orang yang ditelitinya di bawah kendali eksperimen, sedangkan pendekatan antropologi menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. Hal ini membimbing mereka untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiolog dan psikolog sosial, yaitu yang disebut observasi partisipan (participant observation). Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan penelitiannya 1979) di Oberwart, Australia Timur. Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat (Fasold, 1984: 192).
Dengan menggunakan metode observasi partisipan, antropo­log dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelom­pok atau lebih yang “dimasukinya” selama mengadakan peneli­tian. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang diamatinya (Wiseman dan Aron, 1970: 49).  Selain itu, metode observasi partisipan yang tipikal dalam pendekatan itu, yang mengarah kepada peneliti sebagai instrumen penelitian relevan untuk mengungkap secara alamiah gejala pemilihan bahasa dalam masyarakat multibasa di Indonesia.
III.        PENUTUP
Pemilihan bahasa dalam paradigma sosiolinguistis bertemali bukan hanya dengan masalah linguistis semata, melainkan juga dengan masalah sosial, budaya, psikologis, dan situasional. Dalam konteks situasi kebahasaan di Indonesia, dengan adanya berbagai bahasa atau ragam bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial, kajian secara mendalam terhadap fenomena ini sanat penting untuk dilakukan. Kajian seperti itu bermakna baik secara teoretis maupun praktis. Secara teroretis kajian ini bermanfaat bagi pengembangan sosiolinguistik pada umumnya, dan sosiolinguistik Indonesia pada khususnya.
Disadari bahwa temuan sosiolinguistik yang berlatar  situasi kebahasaan dan sosial budaya di Indonesia diharapkan menjadi sumbangan berharga bagi disiplin sosiolinguistik pada umumnya. Secara praktis kajian itu bermakna bagi peristiwa komunikasi. Kajian pemilihan bahasa bermanfaat dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat multibahasa di Indonesia. Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi tidak dapat dihindari sebab kekeliruan dalam melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa dapat berakibat kerugian bagi peserta komunikasi itu.

Senin, 13 Februari 2012


Nama               : ELYANA
NIM                :20102806004        TUGAS MATA KULIAH STATISTIK

Soal-soal
  1. 20 dibuat benar-salah, jawaban yang benar sebanyak10soal.hitunglah probabilitas menjawab soal dengan benar!
  2. Soal 20dibuat benar-salah jawaban yang benar sebanyak 15 soal.Hitunglah probabilitas menjawab soal dengan benar!
  3. Sebuah mata uang dilempar 4kali dengan probabilitas =1/3padatiapkali pelemparan.hitunglah:
    1. berapa probabilitas keluar gambar H sebanyak 3 kali!
    2. Berapa probabilitas paling banyak gambar H keluar 2 kali!
    3. Berapa probabilitas paling sedikit gambar H keluar 1 kali!
    4. Tidak ada kemungkinan H keluar 0 kali!

Jawaban

1. Dik :  P= 0.5
             Q= 1-0.5 =0,5
              n=20
              x=10

  
Maka

          
2. Dik :  P= 0.5
             Q= 1-0.5 =0,5
              n=20
              x=15
Maka
Jadi

Makna dari kedua perhitungan di atas,bahwa semakin banyak jumlah soal yang dikerjakan maka semakin besar peluang yang perolehan jawaban benar.

3. a. Dik :  P=
                 Q= 1-  =
                  n=4
                  x=3

  
Maka
 Jadi
3.b. a. Dik :  P=
                 Q= 1-  =
                  n=4
                  x=2

  
Maka
 Jadi

b. b. Dik :  P=
                 Q= 1-  =
                  n=4
                  x=1

  
Maka
Jadi
b. c. Dik :  P=
                 Q= 1-  =
                  n=4
                  x=0

  
Maka

           

Jadi

Jadi
3.c .a. Dik :  P=
                 Q= 1-  =
                  n=4
                  x=1
Maka          
Jadi

c.b.Dik :  P=
                 Q= 1-  =
                  n=4
                  x=2

  
Maka

           

Jadi

c.c Dik :  P=
                 Q= 1-  =
                  n=4
                  x=3
  
Maka           
Jadi
c.d Dik :  P=
                 Q= 1-  =
                  n=4
                  x=4
  
Maka           
Jadi 
Maka
Probabilitas paling sedikit gambar H keluar 1 kali adalah:
3.d. Dik :   P=
                 Q= 1-  =
                  n=4
                  x=  
Maka

           

Jadi